Akibat Pandemi Covid-19, Petani Sayuran Sulit Jual Hasil Panen

6

Sejumlah petani di Lembang Kabupaten Bandung Barat mengaku kesulitan menjual hasil panen mereka, selama pembatasan aktivitas masyarakat di luar rumah. Selain itu, distribusi barang juga sedikit terhambat, akibat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan pemerintah daerah.

Beberapa hasil panen yang sulit dijual diantaranya tomat dan cabai. Petani tidak bisa leluasa mendistribusikan ke pasar, karena keterbatasan jam operasional pasar. Padahal jika tidak segera dijual, sayuran cepat membusuk.

“Kondisi saat ini sedang sulit, kios di pasar hanya buka setengah hari akibat corona. Karena tak bisa dijual, otomatis sayuran lebih lama tersimpan di gudang,” kata Tihar, petani sayuran di Lembang, Senin 4 Mei 2020.

Kendati hasil panen melimpah, menurut dia, di tengah pandemi ini harga jual tomat dan cabai tidak sesuai harapan. Cabai keriting dijual Rp 7.000 per kilogram dari  harga normalnya Rp 30.000 per kg, sementara tomat Rp 4.000 per kg.

“Tomat dan cabai harus dipanen sekarang, enggak bisa tunggu harga stabil. Kalau enggak lekas dipanen, bisa busuk di pohon, tambah rugi lagi para petani,” tuturnya.

Bahkan, lanjut dia, beberapa waktu lalu harga tomat pernah anjlok hingga Rp 800 per kg, sehingga para petani membiarkan tanamannya membusuk.  Sementara untuk biaya pekerja sehari, petani harus mengeluarkan ongkos Rp 100.000 per orang, tidak sebanding dengan harga jual ke pasar.

Tihar berharap,  wabah Covid-19 segera berakhir agar roda perekonomian, khususnya pertanian bisa kembali stabil. Soalnya, tak sedikit petani tradisional yang menanggung kerugian cukup besar, sehingga ada yang terpaksa berhenti menanam sambil menunggu kondisi normal.

“Biasanya momen seperti bulan puasa dan Lebaran menjadi ladang kami untuk mencari untung. Kalau sekarang, mau untung dari mana, pasarpasar tutup, pengiriman barang juga dibatasi. Mudah-mudahan situasi sulit ini segera berakhir,” ujarnya.

Sementara itu, warga Lembang, Tugiman mengungkapkan, sebelum dan ketika PSBB diberlakukan, operasional pasar tradisional di Lembang memang dibatasi. “Info yang saya dapat, Pasar Panorama hanya lantai 1, yang menjual sayuran dan sejenisnya yang masih beroperasi. Itu pun sampai Zuhur. Kalau lantai 2 dan 3, kios pakaian, dan lain-lain, itu sudah ditutup,” ujarnya. ***

Sumber : Pikiran Rakyat

You might also like