Antartika, Satu-satunya Benua yang Masih Terbebas dari Virus Corona

11

KOMPAS.com – Sejak pertama kali terdeteksi akhir tahun lalu di China, kini virus corona penyebab Covid-19 telah menjangkau ke ratusan negara dari berbagai benua, mulai dari Asia, Australia, Eropa, Afrika, Amerika Utara, hingga Amerika Selatan. Namun, ada satu benua yang masih bebas dari infeksi virus ini. Ia adalah Benua Antartika, benua terdingin yang ada di di ujung selatan Bumi. Jadi, di saat seluruh bagian dunia berperang melawan penyebaran virus yang begitu cepat, di Antartika setidaknya hingga hari ini, belum ditemukan satu pun kasus infeksi. Oleh karenanya, benua ini disebut sebagai tempat teraman di dunia.

Hampir terinfeksi

Virus corona sempat hampir memasuki Antartika ketika terdeteksi terjadi penyebaran virus di kapal-kapal pesiar terakhir musim ini di akhir Maret. Kurang lebih 60 persen penumpang di dalamnya sudah tertular Covid-19. Namun virus tersebut tidak berhasil mencapai garis pantai yang beku. Kondisi benua ini yang diselimuti es membantu memutuskan persebaran virus ini ke dataran wilayahnya. Sejak awal tahun ini, stasiun-stasiun penelitian milik berbagai negara itu telah memberlakukan pelarangan wisata atau kunjungan dari para turis, Antartika pun dikunci atau lockdown untuk mencegah terjadinya penyebaran. Alhasil, banyak rencana kunjungan yang harus dibatalkan. Lihat Foto Permandangan glester di laut Antartika pada musim dingin(Dok. www.traveller.com.au) Berpenduduk 5.000-an orang

Benua ini memang tidak berpenghuni, kecuali ditinggali oleh sejumlah binatang seperti pinguin, paus, anjing laut, dan albatros. Namun, di sana tinggal kurang lebih 5.000-an orang yang kebanyakan merupakan ilmuwan atau peneliti. Mereka tersebar di 80 atau lebih basis pengamatan atau penelitian yang mereka lakukan. Mereka pun merasa begitu bersyukur di masa pandemi ini ‘terisolasi’ di Antartika yang membeku. Hal ini diungkapkan salah satunya oleh Keri Nelson, koordinator administratif di Stasiun Palmer Pulau Anver, stasiun paling utara milik Amerika Serikat di Antartika. “Saya yakin tidak ada seorang pun yang tinggal di sini yang tidak bersyukur untuk berada di sini, dan mendapatkan keamanan. Kami semua sangat senang tinggal di tempat di mana penyakit ini (beserta semua dampaknya) sama sekali tidak ditemukan,” kata Nelson kepada CNN Travel melalui email. Baca juga: Pandemi Corona, Mengapa Ilmuwan di Antartika Tak Tersentuh Covid-19? Ikuti perkembangan di luar Antartika Berbeda lagi dengan Robert Taylor (29), pemandu lapangan asal Skotlandia yang bekerja di Survey Antartika Inggris (BAS). Robert mengaku mengikuti perkembangan virus corona sejak awal ada di China hingga menjadi pandemi global saat ini, merasa tetap tidak bisa terkoneksi karena kehidupannya di Antartika tidak terpengaruh sama sekali. “Ini seperti saya berada di Bulan kemudian melihat ke bawah. Kami dapat melihat apa yang terjadi, tetapi itu sangat-amat jauh,” kata dia. Sebelumnya, terdapat pendapat yang banyak dipercaya, bahwa tinggal dan hidup di Antartika selama satu musim akan mengubah hidup dan cara hidup seseorang.

Namun, kali ini Taylor berani mementahkannya. “Saya tidak bisa berhenti bertanya-tanya mungkinkah dunia akan mengalami lebih banyak perubahan dari pada yang akan kami alami,” ujarnya. Tidak berlebihan jika mereka merasakan hal yang demikian, karena jika melihat dunia luar, di mana pun itu, semua tengah menghadapi krisis yang serupa, pandemi covid-19. Bahkan, Sekretaris Umum PBB, Antonio Guterres telah menetapkan pandemi ini sebagai krisis paling menantang yang terjadi di dunia setelah Perang Dunia II. Sedangkan Antartika dan semua penghuninya, tidak merasakan perubahan apapun dalam keseharian hidup mereka, kecuali jumlah kunjungan yang semakin minim.

Sumber : Kompas.com 

You might also like