Bayi Isyana Usia 1 Bulan Meninggal, Orangtuanya Kecewa RS Menelantarkan,

212

PADANG – Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) yang ada di Padang meminta maaf kepada keluarga bayi satu bulan yang meninggal karena diduga ditelantarkan tenaga medis.

Bayi bernama Isyana dari pasangan suami istri, Fery Hermansyah dan Rydha, itu meninggal pada Rabu (29/4/2020).

“Kami mohon maaf kepada seluruh pihak terutama kepada keluarga pasien bayi dari Ridha Afrila Dina Putri yang tidak puas atas kondisi yang terjadi,” kata Yusirwan dalam keterangan tertulis, Minggu (3/5/2020).

Menurut Yusirwan, terdapat beberapa masalah dalam penanganan bayi berusia satu bulan tersebut. Salah satunya, sistem rujukan dari rumah sakit jejaring menuju RSUP Tersebut yang masih lemah.

Yusirwan menegaskan, RSUP M Djamil dan rumah sakit jejaring di Sumatera Barat telah menyepakati aturan dalam merujuk pasien ke rumah sakit rujukan Covid-19.

ebelum merujuk pasien, rumah sakit jejaring harus mengirimkan data pendahulu pemeriksaan pasien.

Dalam kasus bayi Isyana, rumah sakit jejaring tak mengirimkan data yang lengkap. Sehingga bayi berusia satu bulan itu harus melewati serangkaian tes untuk menetapkan statusnya.

“Jika hal itu tidak terpenuhi dan pasien sudah di rumah sakit rujukan tentunya perlu ada serangkaian pemeriksaan untuk menetapkan status pasien,” jelas Yusirwan.

Hal itu, kata Yusirwan, membuat bayi Isyana seakan diabaikan karena menunggu penetapan status. Apalagi, terjadi kesalahpahaman antara pihak keluarga bayi dengan petugas rumah sakit. Berdasarkan hasil pemeriksaan, bayi Isyana ditetapkan sebagai PDP Covid-19.

Tapi, keluarga tak mengizinkan tim medis melakukan tes swab. “Hal ini yang terjadi, apalagi ini diperparah dengan kondisi keluarga yang tidak mau dilakukan swab terhadap pasien, karena hasil pemeriksaan pasien, ia (bayi) ditetapkan PDP Covid-19,” Yusirwan.

Yusirwan berjanji memperbaiki kekurangan dalam sistem rujukan di rumah sakit. Sehingga, petugas rumah sakit bisa cepat tanggap dalam menangani pasien yang telah tiba di rumah sakit rujukan.

“Kita berharap respon time menjadi lebih baik,” ujar Yusirwan.

Sebelumnya diberitakan, Fery Hermansyah dan Rydha, pasangan suami istri asal Pariaman, Sumatera Barat, tak menyangka akan kehilangan bayi mungilnya yang berusia satu bulan pada Rabu (29/4/2020).

Bayi bernama Isyana itu meninggal sebelum mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) M Djamil Padang, salah satu rumah sakit rujukan Covid-19 di Sumatera Barat.

Kisah pilu yang dialami pasangan suami istri dituangkan dalam sebuah unggahan di akun Facebook, Rydha brt.

Rydha menceritakan perjuangannya dan suami membawa bayinya ke rumah sakit karena mengalami sesak napas setelah menyusui.

Dalam unggahannya, Rydha menyebut pihak rumah sakit sempat menolak bayinya dengan alasan bangsal anak penuh.

Setelah diterima rumah sakit, anaknya pun diperlakukan sesuai prosedur pasien Covid-19. Ketika dihubungi Kompas.com, Rydha mengaku ikhlas melepas kepergian bayi mungilnya. Ia yakin Isyana bakal masuk surga.

“Tapi saya tidak bisa terima perlakuan mereka yang begitu tidak punya hati nurani satu pun,” kata Rydha lewat sambungan telepon, Minggu (3/5/2020).

Rydha menceritakan kronologi insiden tersebut. Awalnya, bayi Isyana mengalami sesak napas setelah menyusui pada Rabu (29/4/2020) sekitar pukul 10.00 WIB.

Rydha dan suami membawa bayinya ke Rumah Sakit Umum Aisyah Pariaman. Tapi, karena keterbatasan alat medis, Isyana dirujuk ke RSUP M Djamil Padang menggunakan mobil ambulans milik RSU Aisyah Pariaman.

Dalam ambulans itu juga ikut tenaga medis dari RSU Aisyah Pariaman. Saat tiba di RSUD tersebut, Isyana ternyata tak langsung mendapatkan penanganan medis.

Rydha menyebut, bayinya ditolak dengan alasan ruangan anak penuh.

Padahal, pihak keluarga mendapatkan informasi ruangan perawatan anak tak penuh sebelum berangkat ke Padang.

“Padahal, sebelum berangkat ke Padang sudah dapat informasi kalau ruangannya tidak penuh. Informasinya, bangsal anak dalam keadaan sepi,” jelas Rydha.

Setelah berdebat dengan petugas RSUP tersebutIsyana akhirnya diizinkan masuk Instalasi Gawat Darurat.

“Satu jam lebih anak saya di ambulans. Bahkan oksigennya sampai habis di mobil (ambulans). Setelah berdebat dengan petugas akhirnya mereka terima,” kata Rydha.

Setelah diizinkan masuk ke Instalasi Gawat Darurat, bayi mungil itu ditangani sesuai prosedur pasien Covid-19.

Rydha mengatakan, beberapa tenaga medis RSUP M Djamil sempat berdebat dengan keputusan itu.

Salah seorang petugas medis RSUP M Djamil keberatan pasien anak dibawa ke ruangan Covid-19. Tapi upaya penanganan terlambat.

Sekitar tiga jam Rydha dan suami menunggu tenaga medis menangani bayinya.

“Dari pukul 14.00 WIB kami sampai, hingga pukul 17.00 WIB, tidak ada yang memberikan pertolongan apa-apa. Sampai akhirnya anak saya meninggal dunia,” jelas Rydha.

Rydha mengaku kecewa dengan perlakuan itu.

“Mereka lebih mementingkan tes Covid-19 kepada semua pasien yang datang ke IGD dibanding lebih dulu menyelamatkan nyawa seorang anak bayi umur satu bulan yang dalam kondisi sangat kritis,” jelas Rydha.



Sumber :  tribunjabar.id 

You might also like