Bulan Ramadhan Tata Cara Itikaf Lengkap Ketentuan dan Amalan yang Dikerjakan, Penjelasan Dalil Al Quran dan Hadis

5

Berikut ini panduan tata cara dan ketentuan melaksanakan itikaf 10 hari terakhir puasa di bulan Ramadhan lengkap dengan penjelasan dalilnya

Umat muslim disunnahkan melaksanakan itikaf di masjid.

Itikaf dilaksanakan sejak 10 hari terakhir puasa di bulan Ramadhan.

Hal ini sebagaimana anjuran Rasulullah dalam hadis riwayat Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beritikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beritikaf selama dua puluh hari.” (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172).

ilustrasi itikaf di masjid (Tribun Palu)
ilustrasi itikaf di masjid (Tribun Palu) ()

Adapun tujuan itikaf dilakukan sejak 10 hari terakhir puasa di bulan Ramadhan untuk mendapatkan malam lailatul qadar.

Untuk melaksanakan itikaf ini dilakukan sesuai ketentuan dan tata cara tertentu.

Berikut ini ketentuan dan tata cara melaksanakan itikaf, dilansir dari rumasyho.com.

1. Itikaf harus dilakukan di masjid

Ketentuan pertama untuk melaksanakan itikaf adalah dilaksanakan di Masjid.

Hal ini dilandaskan sebagaimana firman Allah SWT dalam kutipan Al Quran surat Al Baqarah: 187).

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.”

Diterangkan dalam hadis Rasulullah SAW dan istri-istri beliau melaksanakan itikaf di masjid, tak pernah melaksanakannya di rumah.

Oleh sebab itu para ulama pun sepakat bahwa disyaratkan melaksanakan itikaf adalah di masjid.

2. Itikaf boleh dilakukan di masjid mana saja

Menurut para ulama itikaf disyariatkan di semua masjid tanpa dikhususkan masjid tertentu.

Imam Malik mengatakan itikaf boleh dilaksanakan di masjid mana saja.

Asalkan di masjid tersebut ditengakkan shalat lima waktu.

Selain itu pendapat ulama Syafii menambahkan saat itikaf juga dilaksanakan shalat jumat biasanya.

Ratusan warga khusuk mengikuti dzikir dan muhasabah pada gelaran Bandung Berdzikir
Ratusan warga khusuk mengikuti dzikir dan muhasabah pada gelaran Bandung Berdzikir “Lawan Petasan Dengan Ledakan Dzikir” di Masjid Al-Ukhuwwah, Jalan Wastukencana, Kota Bandung, Selasa (31/12/2019). Kegiatan yang diselenggarakan di 30 kecamatan dan 151 kelurahan se-Kota Bandung menjelang pergantian tahun 2019-2020 itu, untuk mengurangi mobilitas massa ke pusat kota. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN)

3. Wanita boleh itikaf dengan syarat

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri beliau untuk beritikaf.

Sebagaimana hadis yang diterangjan Aisyah Radhiyallagu ‘anha,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ ، وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيهِ – قَالَ – فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan.
Apabila selesai dari shalat shubuh, beliau masuk ke tempat khusus i’tikaf beliau. Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: Kemudian Aisyah radhiyallahu ‘anha meminta izin untuk bisa beri’tikaf bersama beliau, maka beliau mengizinkannya.” (HR. Bukhari no. 2041)

Kemudian pada hadis berikutnya, Aisyah pun berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.” (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172)

Ilustrasi
Ilustrasi (net)

3. Lama waktu berdiam di masjid

Para ulama sepakat bahwa tidak ada batas waktu maksimal melaksanakan itikaf.

Bagi ulama mensyaratkan itikaf disertai melaksanakan puasa.

Maka waktu minimal melaksanakan itikaf adalah sehari.

Ada pula pendapat ulama bahwa itikaf tidak ada pula waktu minimal.

Itikaf boleh dilakukan sesaat di malam atau pun siang hari.

Al Mardawi rahimahullah mengatakan, “Waktu minimal dikatakan itikaf pada itikaf yang sunnah atau itikaf yang mutlak adalah selama disebut berdiam di masjid (walaupun hanya sesaat).” (Al Inshof, 6/17)

4. Mulai masuk dan keluar masjid

Bila itikaf selama 10 hari terakhir puasa di bulan Ramadhan, maka seseorang masuk ke masjid setelah shalat shubuh pada hari ke 21 Ramadhan.

Sementara itu, keluar masjid setelah shalat shubuh pada hari Idul Fitri.

Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadis dibawakan Aisyah radhiyallahu ‘anha,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat shubuh, beliau masuk ke tempat khusus i’tikaf beliau.”

Namun para ulama menganjurkan untuk masuk masjid menjelang matahari tenggelam pada hari ke 20 Ramadhan.

• Berpuasa Bisa Tingkatkan Iimunitas Tubuh dan Proteksi Tubuh dari Berbagai Penyakit

5. Amalan yang dilaksanakan selama itikaf

Melaksanakan itikaf artinya seseorang fokus hanya melaksanakan ibadah dan bermunajat kepada Allah SWT.

Melaksanakan dzikir, bershalawat, mengkaji Al Quran dan hadis serta berdoa, dan boleh membaca buku-buku agama.

Berikut ini hal-hal membatalkan itikaf

– Keluar masjid tanpa alasan syari dan tapa ada kebutuhan yang mendesak

– Jima (bersetubuh) dengan istri

Berikut ini hal-hal yang dibolehkan saat itikaf

– Keluar masjid disebabkan ada hajat yang ditunaikan

Semisal makan, minum dan hajat lain yang tak bisa dilakukan di masjid

– Melakukan hal-hal mubah ( mendesak) seperti mengantarkan orang yang mengunjunginya sampai pintu masjid

– Istri mengunjungi suami yang beritikaf

– Mandi dan berwudhu di masjid

– Membawa kasur untuk tidur di masjid

Itikad di Tengah Pandemi Virus Corona

Pada tahun ini sesuai dengan anjuran pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), selama pandemi Corona ini umat Muslim dianjurkan untuk melaksanakan ibadah Ramadhan di rumah.

Dalam hal ini termasuk melaksanakan ibadah sunnah itikaf.

Ulama Indonesia, Quraish Shihab memberikan penjelasan opsi melaksanakan itikaf di tengah pandemi virus corona.

Menurut Quraish Shihab, itikaf diperbolehkan dilaksanakan di rumah.

Quraish Shihab mengatakan, substansi dari itikaf adalah proses perenungan terhadap semua yang telah dilakukan selama ini.

Artinya melaksanalan itikaf bukan soal di mana melakukan itikaf.

“Itikaf harus di masjid. Tapi, dampak buruk kehadiran di masjid (saat ini) bisa berbahaya. Karena itu kita bisa ambil substansinya,” ujar Quraish dalam konferensi pers di BNPB, Jumat (24/4/2020) lalu, dikutip dari Tribun Solo.

Menurut Quraish Shihab, pada dasarnya itikaf adalah merenung, introspkesi.

Demikian hal tersebut bisa dilakukan di masjid maupun di rumah.

Hanya saja Quraish Shihab melanjutkan, tujuan itikaf dilakukan di masjid adalah agar tidak terganggu dari orang lain saat proses perenungan atau introspeksi diri.

Saat ini, orang sedang dianjurkan untuk tidak berkerumun agar mencegah penularan Covid-19, tak terkecuali di tempat ibadah.

Oleh sebab itu, umat Muslim dapat mengambil substansi itikaf yang sebenarnya, yakni tentang perenungan diri, bukan tentang di mana itikaf dilakukan, kata Quraish Shihab.

Dengan demikian, pertaubatan sebagai tujuan dari itikaf tetap dapat diwujudkan.

Masyarakat tidak perlu memaksakan diri untuk pergi ke masjid dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini.



Sumber : tribunjabar.id 

You might also like