Di Tengah Teror Neo Nazi, Mualaf Pieter Temukan Islam

9

“AKU mau kembali ke mejaku. Belum sempat duduk, aku tiba-tiba mendengar suara tembakan. Awalnya, kukira itu hanya lelucon, tetapi seorang pria kemudian masuk ke bar tanpa mengenakan penutup wajah dan langsung menodongkan senjatanya,” kata Pieter Mienneman mengenang kejadian tragis itu. Siapa sangka, kejadian nahas pada 19 Februari 2020 mengubah hidup Pieter untuk selamanya. Penembakan brutal terjadi di sebuah bar sisha di Kota Hanau, Jerman. Sebanyak sembilan orang menemui ajalnya lantaran serangan itu. Sementara itu, beberapa orang lainnya mengalami luka-luka. Sang pelaku, yang diidentifikasi sebagai Tobias (43 tahun), malam itu kemudian melakukan aksi bunuh diri setelah membunuh ibunya di apartemen tempat tinggalnya. Pieter Mienneman ada di bar tersebut saat peristiwa itu terjadi. Memang, ia biasa berkumpul dengan kawan-kawannya di sana sehabis pulang kerja. Beberapa hari kemudian, ia menerima kabar apa motif pelaku tersebut. Tobias membuat manifesto setebal 24 halaman yang berisi ujaran kebencian terhadap Islam dan kaum Muslim. Dalam dokumen yang sama, sang pembantai itu juga menunjukkan dukungan terhadap neo-Nazisme. Pieter selamat dalam peristiwa itu. Akan tetapi, ia sangat berduka karena sahabatnya turut menjadi korban meninggal, salah satunya bernama Farhat. “Aku tidak percaya Farhat telah meninggal dunia. Ya, rasanya baru kemarin ini kami bermain Play Station bersama di rumahnya,” ujar Pieter Mienneman kepada About Islam. Beberapa jam sebelum datang ke bar sisha itu, ia baru saja selesai mengikuti latihan tinju. Pieter merupakan seorang pelatih olahraga tersebut. Seperti biasanya, seusai latihan ia akan berkumpul dengan teman-temannya di bar dekat arena itu. Datang ke sana, ia melihat teman-temannya sedang menikmati sajian. Pieter pun menginginkan suatu camilan sehingga memanggil pelayan. Pandangan matanya terpaut pada sudut bar di mana tersaji sepiring piza. Pieter pun melangkahkan kakinya untuk mengambil makanan itu. Belum sempat dia kembali ke tempat duduknya, tiba-tiba pria bertopeng masuk dan menembakkan senapannya membabi-buta. Pieter menyaksikan tiga orang kenalannya tertembak dan tak bergerak lagi. Kemudian, ada seorang perempuan hamil yang lari dan melompati jendela. Ia melihat temannya, Momo, yang berusaha menghindar huru-hara ini, tetapi bahunya tertembak. Rekannya yang lain, Idris, mengerang kesakitan. Pieter melihat leher kawannya itu berdarah, begitu pula sela-sela jemarinya. Di tengah kepanikan, Pieter berusaha menyelamatkan diri. Beruntung, ketika sang pelaku dekat dengannya senapan itu tampak sudah kehabisan peluru. Belakangan, lelaki ber perawakan sedang itu mendengar kabar, waktu itu sang teroris telah melancarkan aksi kejinya di kafe lain. Jaraknya kira-kira 2,5 kilometer dari lokasi tempat Pieter berada malam itu. “Saya langsung melesat mencari pintu ke luar darurat. Sesampainya di luar, masih terdengar suara orang-orang panik. Saya bersyukur masih hidup, tetapi kemudian saya memeriksa kembali. Di antara mereka, ada yang selamat meski luka-luka,” ucap dia dikutif republika.co.id, Kamis (7/5). Bersama dengan teman-temannya, Pieter hanya ingin menikmati malam bersama. Namun, rencana itu buyar. Itu menjadi malam yang mengerikan. Menurut Pieter, banyak dari para korban itu adalah Muslim, termasuk kawan-kawannya. Pieter sendiri merupakan warga Jerman keturunan Kamerun. Sejak kecil, ia memiliki banyak teman dari beragam kalangan, entah itu dari perspektif agama, ras, atau bangsa. Keluarganya juga mendidiknya menjadi pribadi yang berpikiran terbuka dan toleran. Tak berbeda dengan umumnya masyarakat Kota Hanau ini. Setelah insiden penembakan di Hanau, Pieter Mienneman menjadi Muslim. Keputusan itu tak serta-merta diambilnya. Ia merasa, kejadian mengerikan itu merupakan tanda kasih sayang Tuhan kepadanya. Ia masih diberikan usia untuk menjalani kehidupan ini dengan lebih baik lagi. Beberapa hari setelah kejadian itu, ia mengunjungi salah satu masjid di Hanau. “Allah SWT Pengasih dan Pemurah,” ujar dia. Memang, beberapa tahun sebelumnya, Pieter mengakui, dia sudah tertarik pada ajaran agama Islam. Setelah kunjungannya itu, ia sering menghadiri kajian-kajian keislaman di sana. Para imam dan jamaah pun menerimanya dengan hangat. Inilah pula yang menjadi pertanyaannya untuk orang-orang yang membenci Islam. Atas dasar apa kebencian mereka itu dimunculkan? Mengapa tidak mengenal lebih jauh agama ini, alih-alih menghakimi tanpa bukti? “Seperti yang aku rasakan sendiri, Aku justru mendapatkan kehangantan di lingkungan Islam,” ujar dia. Pada akhir Januari lalu, Pieter Mienneman mengucapkan dua kalimat syahadat di masjid Hanau. Ia dibimbing seorang imam. Dengan suara penuh keyakinan, pemuda itu mengikuti bacaan sang imam: Asyhaduan laa ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah. Kedua tangannya menggenggam tangan imam tersebut. Hari itu Jumat sehingga ia langsung mengikuti ibadah salat Jumat berjamaah setelahnya. Komunitas Muslim di Jerman membagi-bagikan cuplikan video yang merekam Pieter sedang berikrar syahadat. Pieter sendiri merasa, keputusan nya untuk menjadi Muslim bagaikan meta morfosis. Ia seakan-akan baru saja keluar dari lorong kegelapan menuju cahaya terang. Kini, ia memilih nama baru, yakni Bilal. Ia memandang, sahabat Nabi Mu hammad SAW Bilal bin Rabah merupakan teladan dalam perjuangan menemukan kebenaran dan menjalani hidup dalam tuntunan Islam. Peristiwa penembakan di Hanau pada akhir bulan lalu memang menyebabkan syok kolektif dan rasa berkabung. Akan tetapi, syahadat Pieter memberi secercah harapan. Bahkan, pada saat-saat tergelap, ketika dunia terperosok dalam tragedi, secercah harapan bisa terlahir kembali. Cahaya itu adalah iman dan Islam. Komunitas Muslim Jerman meminta pria yang baru memeluk Islam itu untuk mendoakan para korban penembakan tersebut. Pernyataan itu disampaikan melalui komentara-komentar video itu yang lantas menjadi viral di media sosial. Salah seorang komentator menulis, Anda sebagai orang yang baru masuk Islam masih dalam keadaan suci dan bersih. Bila Anda berdoa, insya Allah dikabulkan oleh Allah. Pada hari itu, komunitas Muslim Hanau juga mendoakan para korban jiwa. Khususnya korban dari kalangan Muslim, mereka menyelenggarakan salat gaib sehabis salat Jumat. Ini dilakukan tidak hanya di Hanau, tetapi juga masjid-masjid seluruh Jerman. Ya, peristiwa ini menyisakan luka batin yang dalam, terutama bagi kalangan imigran dan Muslim yang kerap menjadi sasaran pendukung neo-Nazi. Tindakan kekerasan membuat umat Islam yang menjadi warga Jerman sempat khawatir akan keselamatan diri mereka. Apakah Jerman kian tak aman lagi bagi penganut Islam?

Sumber : galamedianews.com

You might also like