Jembatan Darurat Tak Kunjung Dibangun, Warga Bangun Jembatan Swadaya

7

BANDUNG RAYA – Masyarakat menunggu pembangunan jembatan darurat pengganti jembatan yang rubuh di Desa Cijunti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta, awal April 2020 lalu. Untuk sementara, mereka terpaksa membangun jembatan secara swadaya.

“Masyarakat sangat membutuhkan jembatan itu, karena jalur ini adalah jalur utama bagi masyarakat dari wilayah Subang, Purwakarta maupun Karawang untuk aktivitas sehari-hari,” kata Ketua Rukun Tetangga setempat Ade, Jumat 1 Mei 2020.

Jembatan sederhana dibangun oleh masyarakat di lima Rukun Warga yang terletak di sekitar lokasi. Jembatan tersebut dibangun tidak jauh dari lokasi jembatan yang rubuh sebelumnya.

Mereka menggunakan biaya dan tenaga swadaya dengan bahan semi permanen, seperti bambu dan kayu. Mereka juga membeton jalan menuju jembatan yang menurun ke dasar sungai agar lintasannya tidak licin.

Sebagai gantinya, mereka menerima sumbangan dari para pengguna jembatan tersebut. “Ini bukan pungutan karena kami tidak menentukan tarif untuk pengguna jalan. Bisa kasih seikhlasnya,” kata Ade menegaskan.

Beberapa orang menunggu di pos jaga yang terletak sebelum jalan turun ke jembatan. Salah seorang di antaranya bertugas mengatur lalu lintas menggunakan alat pengeras suara dan yang lainnya membantu pengendara sepeda motor yang kesulitan menuruni atau mendaki jalan.

Ade mengatakan, warga menjaga jembatan tersebut sepanjang hari selama 24 jam tanpa henti. “Itu untuk membantu warga yang melintasi jembatan tapi kami jamin jembatan ini kuat tidak akan terbawa arus sungai atau ambles,” ujarnya beralasan.

Jumlah pengguna jembatan tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 500 orang dalam sehari. Mereka didominasi oleh para buruh di kawasan industri yang ada di Kecamatan Bungursari Purwakarta dan Karawang.

Jembatan tersebut, saat ini hanya bisa dilewati sepeda motor kecil, tidak bisa untuk kendaraan roda empat. Padahal, jalan tersebut adalah akses tercepat untuk mendistribusikan barang kebutuhan pokok bagi masyarakat.

Setelah jembatan besarnya rubuh, warga yang membawa mobil harus memutar menggunakan jalur Sadang-Subang. Menurut mereka, jembatan serupa sudah beberapa kali rubuh karena kondisi tanahnya yang labil dan rawan ambles.

“Saya dengar kata orang tua warga di sini sudah ada jembatan gantung dari tahun 1980-an, pengganti jembatan yang dibangun sebelumnya tidak tahu dari kapan. Jembatannya sering rubuh karena tanahnya labil, jadi harus benar-benar bagus konstruksinya,” tutur Ade.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kabupaten Purwakarta Wahyu Wibisono meminta warga berhati-hati. Menurutnya, letak jembatan yang ada di dasar sungai rentan terseret arus sungai.

Terlebih, kondisi cuaca saat ini sering terjadi hujan lebat. “Dari segi konstruksi, jembatan darurat tersebut sangat jauh dari memenuhi syarat. Akan tetapi karena kebutuhan warga yang mendesak maka jembatan darurat tersebut dipergunakan oleh warga,” kata Wibi. ***

Sumber : Pikiran Rakyat

You might also like