Keberkahan Ramadhan

12

SEKIRANYA penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Q.S. Al-A’raaf: 96)

Bulan Ramadan adalah bulan yang suci dan penuh berkah. Selain doa agar wabah Covid 19 ini segera berakhir, kita ber-muhasabah dan berharap agar bisa lolos dari ujian ini sehingga meningkatkan derajat kita sebagai orang yang beriman. Pada bulan Ramadan, Allah Swt melipatgandakan pahala amal kita. Seluruh waktu Ramadan ada rahmat, seluruhnya merupakan ampunan dari Allah dan terbuka kesempatan bagi setiap mukmin untuk terbebas dari api neraka.

Keberkahan di bulan Ramadan bisa diraih seiring dengan upaya kita untuk melaksanakan amalan dan ibadah yang dicontohkan Rasulullah saw. Kita sangat menginginkan keberkahan, yaitu karunia dari Tuhan yang memiliki kebaikan terus-menerus serta selalu bertambah, limpahan kebaikan dalam hidup kita.

Namun, keberkahan bukan sekadar serbacukup atau melimpah, tetapi juga bertambahnya ketaatan kita kepada Allah, baik dalam keadaan berlimpah maupun tidak. Hidup yang berkah tidak hanya sehat, tetapi kadang sakit juga membawa berkah. Seperti sakitnya Nabi Ayub as, yang menambah ketaatannya terhadap Allah swt.

Panjang umur juga tidak selamanya berkah. Ada beberapa sahabat Nabi yang pendek umurnya, tetapi taatnya terhadap Allah swt sangat dahsyat. Tanah yang berkah itu bukan karena selalu subur dan indah pemandangannya. Sebab tanah yang tandus seperti Mekah punya keutamaan yang tiada tara di hadapan Allah sehingga hampir setiap muslim ingin mengunjunginya.

Banyak sekali orang yang memiliki harta yang banyak, rumah yang besar, istri yang cantik atau suami yang tampan, serta ilmu yang luas, tetapi tidak mengangkat derajat pemiliknya. Malah menghinakannya, bukan kebahagiaan yang diperoleh, melainkan masalah dan malapetaka. Apa sebabnya? Lantaran semua itu tidak berkah.

Kita tidak boleh cukup senang hanya dengan memiliki sesuatu. Tetapi yang harus lebih kita senangi adalah keberkahan atas segala sesuatu yang kita miliki.
Jadi, mulailah berhati-hati dengan harta yang kita miliki. Janganlah sekali-kali mencoba bersikap tidak jujur. Setelah itu, hati-hati pula jangan sampai ada hak-hak orang lain yang terampas atau belum tertunaikan, apalagi hak umat. Na’udzubillahi min dzalik.

Alkisah, ketika Umar bin Abdul Aziz sedang mengerjakan tugas negara malam hari di rumahnya, tiba-tiba anaknya mengetuk pintu kamar. Kemudian beliau membuka pintu dan lampu di kamar tersebut dimatikannya. Si anak lalu bertanya, “Kenapa lampu engkau matikan?” lalu beliau menjawab, “Karena minyak pada lampu ini milik negara. Tidak layak kita membicarakan urusan keluarga dengan menggunakan fasilitas negara.” Begitulah Umar, sangat berhati-hati karena mengharapkan hidupnya mendapat rida dan berkah dari Allah swt.

Sangat indah apabila para pemimpin dan rakyat di negeri ini mengamalkan hal yang dilakukan oleh khalifah tadi. Tidak akan korupsi, tidak ada manipulasi, tidak ada kolusi, dan tidak ada nepotisme. Rakyat akan memperoleh kesejahteraan karena para pemimpin memikirkan rakyatnya, tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri dan kelompoknya.

Betapa mengerikan apabila kita mengingat bahwa sebetulnya kepada negeri ini telah Allah berikan keberkahan-Nya. Akan tetapi, karena kita mendustakan dan tidak mengerjakan apa yang Allah perintahkan serta banyak melanggar larangan-Nya, Allah cabut keberkahan tersebut, digantikan dengan musibah, malapetaka, tragedi, dan bencana. Sudah sangat sering kita mengalami semua itu, tetapi bukannya tersadar, malah makin terlena. Harus berapa kali lagi banjir, gempa, dan bencana yang kita alami, hingga kita bisa sadar? Termasuk pandemik Covid-19 seperti sekarang. Telah banyak kerusakan yang telah kita lakukan di muka bumi ini, baik di darat, laut, maupun udara.

Oleh karena itu, selayaknyalah kita sadar bahwa kita telah banyak melanggar aturan-Nya dan kembali kepada ajaran hakiki, yaitu ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw. Jadikanlah momentum Ramadan ini sebagai titik balik bagi kita semua swehingga keberkahan yang pernah Allah turunkan kepada rakyat dan negeri ini akan kembali Allah berikan kepada kita semua. Aamiin.

Wallahu a’lam bishshawab. (*)



Sumber : tribunjabar.id 

You might also like