Kesedihan Pramugari saat Pandemi Covid-19, Tak Bisa Dampingi Pemudik dan Merasa Hilang Separuh Jiwa

14

BANDUNG – Bagi seorang pramugari, menjalani masa bekerja di rumah akibat adanya pembatasan penerbangan selama pandemi Covid-19 bukanlah hal mudah.

Jika dulu biasanya setiap hari bepergian dan mendampingi para penumpang pesawat, kini mereka harus diam di rumah.

Pramugari asal Margahayu, Kabupaten Bandung, Dewi Fitriani (26), mengatakan hal yang paling membuatnya sedih bukanlah kondisi yang membuatnya harus diam di rumah.

Dewi mengatakan dirinya sangat sedih merana tahun ini tidak bisa mendampingi para penumpang yang mudik.

“Sedihnya sekarang kita tidak terbang, tapi kita sendiri tidak bisa mudik juga. Kalau lagi terbang biasanya kesedihan tidak bisa mudik teralihkan sama kegiatan kita. Bahagia mengantar orang-orang yang mudik bertemu keluarganya, kadang ada beberapa penumpang yang ngucapin selamat Idulfitri sambil ngasih kue kering atau gift buat kita yang tugas saat itu,” kata Dewi saat dihubungi melalui ponsel, Senin (4/5/2020).

Dewi mengatakan sejak diberlakukan pembatasan penerbangan, dirinya harus tinggal di rumahnya di Jakarta.

ILUSTRASI - Nama pramugari Siwi Sidi ramai dibicarakan, setelah sebelumnya juga Puteri Novitasari Ramli juga ramai dibicarakan.
ILUSTRASI – pramugari (travelandleisure.com via Bangka Pos)

Awalnya Dewi berpikir akan bahagia karena bisa menjalankan ibadah puasa, dari mulai sahur sampai berbuka puasa di darat.

“Jadi benar-benar seperti orang kebanyakan karena itu tidak biasa kami rasakan tiap tahunnya. Dan lama kelamaan mulai terasa bosan, apalagi ditambah benar-benar tidak bisa ke mana-mana. Kebanyakan dari kami itu kan bukan warga Jakarta, keluarga kami lebih banyak di daerah,” tuturnya.

Dewi mengatakan ia mulai merasakan penat sampai pusing. Kebingungan karena tidak terbiasa memiliki waktu luang sebanyak sekarang.

Akhirnya dia dan rekan-rekannya menghabiskan waktu dengan berkreasi, dari mulai memasak sampai bisnis makanan.

“Ya akhirnya kita cari cara buat killing time yang bisa menghasilkan biar produktif. Akhirnya kebanyakan dari kami ada yang belajar masak, bikin kue, dessert, sampai ada yang jualan juga. Tiba-tiba kami semua punya keahlian memasak kayaknya,” ujarnya.

Sebelum ada pembatasan kegiatan di luar rumah, katanya, sempat ada yang membuat grup dancer, grup workout, sampai grup lari sore.

Namun kini setelah pembatasan sosial berskala besar, kreativitas mereka benar-benar diuji supaya tidak bosan karena diam saja di rumah.

“Sekarang kami kehilangan jam terbang. Sama kehilangan my beloved passangers,” ujarnya.

Dewi mengatakan biasanya setiap hari bertemu langsung dengan orang banyak yang berebeda karakter dan berbeda budaya, bisa pergi ke daerah-daerah dalam waktu yang sangat sering, bertemu teman-teman seprofesi dan partner kerja, mendampingi penumpang, sampai mempersiapkan pesawat.

“Duuuh banyak banget yang dirinduinnya. Bisa dibilang ada separuh jiwa yang hilang dari kita sih. Dari kejadian ini kita jadi kembali sadar sih bahwa memang ternyata kita mencintai pekerjaan kita, termasuk penumpang-penumpang yang setiap hari kita temuin,” katanya.

Dewi mengatakan dia dan rekan-rekannya sangat berharap pandemi ini segera selesai karena sudah banyak yang dirindukan. Dewi sangat tidak sabar untuk segera menyambut para penumpang pesawat kembali. (sam)



Sumber : tribunjabar.id 

You might also like