Memprihatinkan, Ade Setiawan Butuh Uluran Tangan

25

MEMPRIHATINKAN.  Itulah kata yang mungkin tepat untuk menggambarkan kondisi fisik Ade Setiawan warga Kampung Cipari Girang, RT 03/RW 02 Desa Cijambu, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat.

Tubuhnya nyaris hanya menyisakan kulit dan tulang. Deretan tulang rusuk di dadanya tampak jelas karena daging yang membungkusnya habis digerogoti penyakit diabetes kering.

Pria berumur 53 tahun ini bergulat dengan penyakit diabetes selama empat tahun. Praktis,  selama itu pula Ade yang berprofesi sebagai pedagang cendol keliling ini tak lagi bisa mencari nafkah.

Untuk bangun saja mesti dibantu. Begitupun untuk mengganti pakaian selalu dibantu istrinya, Opah (54). Opah menceritakan, suaminya sempat beberapa kali berobat di RSUD Cililin. Dengan Kartu Indonesia Sehat (KIS) seluruh biaya pengobatan ditanggung oleh pemerintah.

“Pengobatannya harus rutin dan juga sempat harus rawat inap. Yang jadi kendala itu ongkos dari rumah ke rumah sakitnya yang mahal,” kata Opah saat ditemui, Kamis (7/5/2020).

Ia menyebut, jarak ke RSUD Cililin sekitar 40 kilometer. Dengan ongkos transportasi yang mahal, ia lebih memilih merawat suaminya di rumah. “Bukannya enggak mau membawa rutin suami periksa ke rumah sakit.  Saya dan suami enggak punya uang buat ongkos transportasinya.

Buat makan saja susah,” ujar Opah sambil menyeka air mata yang membasahi pipinya. Alternatif Ia mengatakan, meski keluarganya tidak mampu, bukan berarti sama tidak ada upaya untuk kesembuhan suaminya. Selain diobati secara medis juga ke alternatif.

“Cuma masalahnya saya enggak punya uang. Pernah juga dibawa  ke pengobatan alternatif, juga enggak tuntas,” ujarnya ibu tujuh anak ini. Salah seorang anaknya, Neng Robiah (32) menuturkan untuk biaya berobat dari patungan anak-anaknya. Kondisi anak -anaknya secara ekonomi tak jauh berbeda dengan orang tuanya. “Suami saya hanya bekerja sebagai buruh pembuat golok. Penghasilannya enggak tentu.

Saya dan saudara yang lainnya selalu patungan buat makan sehari-hari abah dan emak,” tuturnya. Ia berharap ada bantuan dari pemerintah buat kedua orang tuanya. Selama ini ada yang datang   mendata dan mengambil foto, tapi setelah itu tidak ada tindaklanjutnya. Selama ini, keluarga Ade tak masuk penerima BPNT, PKH maupun bantuan sosial bagi warga terdampak Covid-19.

Sumber : galamedianews.com

You might also like