Pemulung Sampah Plastik Terdampak Covid-19 Peroleh Bantuan

9

PARA pengusaha pabrik plastik daur ulang yang tergabung dalam Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) Solo dan Yogyakarta, bersama para pengepul plastik limbah dan pendaur ulang plastik, secara patungan mengumpulkan dana untuk membantu para pemulung di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) yang terdampak pandemi Covid-19. Dana yang terkumpul diwujudkan paket sembako untuk membantu para pemulung khusus sampah plastik, yang disebut sebagai mitra usaha pemasok bahan baku plastik daur ulang.

Didie Cahyadi, Koordinator ADUPI Dewan Pengurus Daerah (DPD) Solo – Yogyakarta menjelaskan, bakti sosial (baksos) bantuan sembako tersebut merupakan wujud kepedulian para pengusaha plastik daur ulang terhadap para pemulung. Menurut dia, masyarakat sasaran bantuan adalah para pemulung khusus sampah plastik dan baru pertama kali itu digelar, karena para pemulung merupakan mitra usaha ADUPI dalam memenuhi kebutuhan bahan baku plastik daur ulang.

“ADUPI melakukan baksos ke pemulung plastik, karena ada kaitan emosional dengan usaha. Para pemulung itu yang memasok bahan baku plastik daur ulang, sehingga kami fokus memberi bantuan kepada mereka. Mereka itu yang terdampak Covid-19, akibat pabrik tutup, harga plastik limbah turun dan pendapatan pemulung anjlog drastis karena tidak bisa menjual plastik yang dikumpulkan,” katanya di sela penyerahan bantuan kepada para pemulung TPA Putri Cempo, Solo, Jumat (8/5/2020).

Didie Cahyadi yang didampingi Kasi Penindakan Kantor Bea dan Cukai Surakarta, Baroto menjelaskan, pada baksos pertama itu ADUPI menyiapkan 1.000 paket sembako, berisi antara lain beras, gula, mie instan, minyak goreng dan masker. Selain para pemulung sampah plastik di TPA Putri Cempo, ADUPI bekerjasama dengan NU, GP Ansor dan Pagar Nusa, memberikan bantuan yang sama kepada para pemulung di Kecamatan Masaran dan Plupuh, Kabupaten Sragen.

Pada tahap kedua, sambung Koordinator ADUPI, pihaknya bekerjasama dengan Hipmi, NU, GP Ansor dan Pagar Nusa juga akan menyulurkan bantuan sembako kepada para pemulung sampah plastik di TPA Piyungan, Yogyakarta. Dalam baksos di Yogyakarta, juga akan disalurkan sebanyak 1.000 paket sembako yang penyerahannya lewat aparat desa di lokasi TPA kedua daerah tersebut.

“Kami menyerahkan bantuan secara simbolis lewat aparat desa supaya tepat sasaran. Karena aparat desa yang tahu persis warga sasaran baksos ini. Kami tidak menyerahkan sendiri agar tidak ada kerumunan masa, sehingga terhindar dari social distancing,” jelasnya. Menyinggung nilai paket sembako untuk membantu para pemulung, Didie minta jangan dilihat nilainya tetapi niat baik dari baksos tersebut.

Dia menyatakan, sumber dana untuk biaya baksos bukan hanya dari pengusaha pemilik pabrik plastik, tetapi juga dari pendaur ulang dan pengepul. “Jadi hendaknya jangan dilihat nilainya, karena yang membiayai patungan bukan hanya kumpulan pengusaha yang punya pabrik, tetapi semua ikut mengumpulkan uang untuk bakti sosial,” tandasnya, sambil berharap setelah Idulfitri kondisi bisa pulih kembali dan kegiatan bisa berjalan agar dampaknya tidak meluas. Salah seorang pemulung penerima bantuan, Hendri Kriatianto, warga Kampung Jatirejo RT 01 RW 09, Mojosongo, mengungkapkan, kondisi ekonomi para pemulung TPA Putri Cempo saat ini sangat berat.

Pendapatan mereka yang biasanya rata-rata antara Rp 50.000, – sampai Rp 60.000,-per hari, sekarang hanya sekitar Rp 20.000, – sampai Rp 25.000,-. “Kondisi saat ini sangat berat, lebih berat dibanding waktu krisis 1998. Sekarang kalau mengumpulkan plastik tidak bisa menjual, karena pabriknya berhenti, pengepulnya juga tutup. Sehingga bantuan ini sangat membantu,” tuturnya. Di TPA Putri Cempo, kata Hendri, saat ini tercatat sebanyak 200-an pemulung sampah plastik dan 10 pengepul. Namun belakangan sebagian besar pengepul tutup dan hanya satu atau dua yang masih mau terima dagangan dengan harga sangat rendah.

Sumber : galamedianews.com

You might also like