Penelitian di Jepang: Manfaat Puasa Bisa Buat Seseorang Awet Muda

20

Tidak hanya perkara pahala, ibadah puasa di bulan Ramadhan pun memiliki keutamaan dan keistimewaan lainnya. 

Studi terbaru menyatakan bahwa berpuasa dapat meningkatkan aktivitas metabolisme yang bermanfaat bagi kulit dan tubuh. Sehingga dapat mencegah penuaan dini. 

Bermula dari sebuah penelitian yang diujicobakan pada tikus sebagai sampelnya. Riset tersebut menunjukkan bahwa puasa dapat memperpanjang umur tikus.

“Studi baru-baru ini menunjukan bahwa pembatasan kalori dan berpuasa memiliki efek memperpanjang umur pada hewan, tetapi mekanisme terperinci tetap masih menjadi misteri,” jelas Dr. Takuyaki Teruya.

Lebih lanjut, para ilmuwan di Institut Pascasarjana Sains dan Teknologi Okinawa, Jepang meneliti dampaknya terhadap metabolisme.

Dengan memahami metabolisme, tim ini berharap menemukan cara memanfaatkan puasa tanpa perlu menguras energi.

Penelitian berlanjut pada manusia, empat sukarelawan berpuasa selama 58 jam. Menggunakan metabolomik atau pengukuran metabolit, para peneliti menganalisis sample darah lengkap pada interval selama periode puasa.

Kemudian, para ilmuwan dapat menemukan bukti glukoneogenesis dengan menilai kadar metabolit tertentu dalam darah, termasuk karnitin dan butirat. Setelah berpuasa, kadar metabolit ini telah meningkat dalam darah.

Akan tetapi, para ilmuwan juga mengidentifikasi lebih banyak perubahan metabolisme, beberapa hasilnya pun sangat mengejutkan peneliti.

Puasa ternyata memunculkan senyawa antipenuanaan. Kadar purin dan pirimidin yang lebih tinggi adalah petunjuk bahwa tubuh mungkin meningkatkan kadar antioksidan tertentu.

Lebih lanjut, peneliti menjelaskan bahwa ini mungkin penyebab umur hidup tikus lebih panjang. Dalam keempat subjek, para peneliti mengidentifikasi 44 metabolit yang meningkat selama puasa, beberapa di antaranya meningkat 60 kali lipat.

Menurut Dr. Takuyaki, metabolit ini sangat penting untuk pemeliharaan otot dan aktivitas antioksidan. Hasil tersebut menunjukkan kemungkinan efek peremajaan dengan puasa, yang tidak diketahui sampai sekarang.

Ilmuwan percaya bahwa kenaikan antioksidan muncul selama menahan lapar. Sehingga tubuh mengalami tingkat stres oksidatif yang tinggi.

Penelitian berlanjut pada manusia, empat sukarelawan berpuasa selama 58 jam. Menggunakan metabolomik atau pengukuran metabolit, para peneliti menganalisis sample darah lengkap pada interval selama periode puasa.

Kemudian, para ilmuwan dapat menemukan bukti glukoneogenesis dengan menilai kadar metabolit tertentu dalam darah, termasuk karnitin dan butirat. Setelah berpuasa, kadar metabolit ini telah meningkat dalam darah.

Akan tetapi, para ilmuwan juga mengidentifikasi lebih banyak perubahan metabolisme, beberapa hasilnya pun sangat mengejutkan peneliti.

Puasa ternyata memunculkan senyawa antipenuanaan. Kadar purin dan pirimidin yang lebih tinggi adalah petunjuk bahwa tubuh mungkin meningkatkan kadar antioksidan tertentu.

Lebih lanjut, peneliti menjelaskan bahwa ini mungkin penyebab umur hidup tikus lebih panjang. Dalam keempat subjek, para peneliti mengidentifikasi 44 metabolit yang meningkat selama puasa, beberapa di antaranya meningkat 60 kali lipat.

Menurut Dr. Takuyaki, metabolit ini sangat penting untuk pemeliharaan otot dan aktivitas antioksidan. Hasil tersebut menunjukkan kemungkinan efek peremajaan dengan puasa, yang tidak diketahui sampai sekarang.

Ilmuwan percaya bahwa kenaikan antioksidan muncul selama menahan lapar. Sehingga tubuh mengalami tingkat stres oksidatif yang tinggi.

Sumber : PIKIRAN RAKYAT 

You might also like