Ramadan Momentum Perbaiki Diri

7

SETIAP bulan Ramadan, umat Islam diperintah untuk melaksanakan saum. Saum bukan hanya menahan haus dan lapar, melainkan mengajarkan nilai-nilai moralitas yang sangat tinggi. Tujuan akhir dari saum adalah membentuk karakter muttaqin, sebagaimana Al-Qur’an menjelaskan dalam QS Al-Baqarah (2): 183:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Dengan demikian, dalam saum ini terdapat proses menuju takwa.

Motivasi kita melaksanakan saum yang utama adalah iman kepada Allah dan mengharapkan rida-Nya. Hal ini menjadi dasar yang kuat dan menjadi sebuah keyakinan bahwa orang yang melaksanakan saum karena iman dan mengharap rida Allah niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu, sebagaimana hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim (muttafaqun ‘alaih), “Siapa orang yang melakukan saum Ramadan karena iman dan mengharap rida Allah niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu.”

Motivasi kedua adalah karena pada bulan Ramadan pintu surga terbuka, sedangkan pintu neraka ditutup serta setan dibelenggu. Berdasarkan hadis tersebut, hendaklah kita berbahagia ketika Ramadan datang dan hendaklah diisi dengan amalan-amalan saleh yang akan membawa kita ke surga.

Motivasi berikutnya adalah bahwa doa orang yang saum tidak akan tertolak. Sebagaimana hadis riwayat Al-Tirmidzi dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Ada tiga orang yang tidak akan ditolak doanya, yakni orang yang saum hingga ia berbuka; seorang pemimpin yang adil; dan doa orang yang teraniaya. Allah akan mengangkatnya ke atas awan dan dibukakan baginya pintu-pintu langit, lalu Allah berkata: (Demi kemuliaan-Ku, pasti Aku akan menolongnya walau saat ini juga)”.

Dalam khutbahnya di akhir bulan Syakban, Rasulullah bersabda, “Wahai manusia, telah menaungi kalian bulan yang agung dan diberkahi, bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan yang dijadikan Allah saumnya sebagai sebuah kewajiban dan qiyamul lail-nya sebagai sunat. Barang siapa yang beribadah pada bulan ini dengan melakukan suatu kebaikan (sunat), maka ia seperti melakukan kewajiban pada bulan yang lain, dan barang siapa yang melakukan kewajiban di bulan ini, maka ia seperti melakukan tujuh puluh kewajiban pada bulan ini.”

Berdasarkan motivasi di atas, hendaknya saum yang kita lakukan tidak menjadi sia-sia. Banyak sekali peluang pahala yang dapat kita lakukan agar menjadi amal soleh. Rasul pun pernah bersabda: “Saum itu bukan hanya sekadar meninggalkan makan dan minum, tetapi juga meninggalkan ucapan sia-sia dan kotor.”

Dari hadis tersebut dapat kita ambil hikmah, sejatinya saum bukan hanya menahan haus dan lapar, melainkan kita harus bisa meninggalkan perbuatan sia-sia dan merusak terhadap amal sehingga kita bisa membangun karakter orang yang bertakwa.
Mari kita jadikan Ramadan sebagai momentum memperbaiki diri. Peluang memperbanyak amal dan muhasabah diri. Tidak ada yang sia-sia jika semua diniatkan karena Allah semata.
Wallahu a’lam bishshawab. (*)



Sumber : tribunjabar.id  

You might also like