Ramadhan Bulan Kesempatan untuk Bertaubat, Ampunan Allah SWT Terbuka Lebar, Begini Tata Cara Taubat

6

TRIBUNJABAR.ID – Ramadhan merupakan satu di antara bulan yang mulia dan diberkahi Allah SWT.

Selain itu Ramadhan bulan yang lekat dengan rahmat Allah SWT.

Ya, ternyata Ramadhan juga merupakan bulan kesempatan untuk bertaubat.

Dikutip dari eramuslim.com, hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ رَمَضَانَ
شَهْرٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ صِيَامَهُ وَإِنِّي سَنَنْتُ لِلْمُسْلِمِينَ قِيَامَهُ
فَمَنْ صَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ الذُّنُوبِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Bersabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan di mana Allah ta’aala wajibkan berpuasa dan aku sunnahkan kaum muslimin menegakkan (sholat malam).

Barangsiapa berpuasa dengan iman dan dan mengharap ke-Ridhaan Allah ta’aala, maka dosanya keluar seperti hari ibunya melahirkannya.” (HR Ahmad 1596)

Dari hadis di atas barangsiapa yang bersungguh-sungguh berpuasa di bulan ini, Allah SWT akan mengampuni segenap dosanya.

Ia diumpamakan seperti bayi yang dilahirkan dari ibunya, artinya kembali suci tanpa dosa.

Tentu ini merupakan kesempatan bagi umat muslim yang tak boleh dilewatkan.

Oleh sebab itu, Allah SWT memberikan berkah di bulan Ramadhan.

Umat muslim dapat mengerjakan segala kebaikan dan amalan di bulan mulia ini.

Tak lain untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bertawakkal dan bertaubat.

Seperti diketahui ibadah puasa Ramadhan ditujukkan untuk membentuk diri dan kembali pada Allah SWT.

Kembali pada Allah SWT yang dimaksud berarti adalah dengan bertaubat.

Dikutip dari muslim.or.id, Ibnu Taimiyyah menjelaskan taubat terdiri dari dua macam.

Dua di antaranya yakni taubat wajib dan taubat sunnah.

Taubat wajib merupakan taubat karena meninggalkan suatu perintah atau melakukan suatu larangan.

Sementara taubat sunnah adalah taubat karena meninggalkan perkara yang sunna dan melakukan yang makruh.

Kiranya tak ada seorangpun manusia yang tak luput dari kesalahan dan dosa yang membebaninya.

Setiap hari mungkin saja dosa dan kesalahan dikerjakan baik sadar maupun tidak sadar.

Oleh sebab itu berada di bulan Ramadhan inilah kesempatan umat muslim untuk bertaubat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sesungguhnya Allah SWT akan mengampuni segala dosa umatnya kecuali dosa syirik , sebagaimana berfirman dalam Surat An-Nisaa ayat 48,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”

Allah SWT juga berfirman dalam Al Quran Surat Az Zumar: 53).

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Begitu banyak rahmat yang Allah SWT berikan untuk umat manusia agar kembali pada-Nya (bertaubat).

Lantas bagaimana tata cara bertaubat?

Taubat Nasuha

Untuk bertaubat sebaiknya dilakukan dengan bersungguh-sungguh.

Sebagaimana kutipan firman Allah SWT dalam Al Quran Surat At Tahrim: 8.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya)…”

Dikutip dari wahdah.or.id, ada 6 syarat yang dipenui untuk melakukan taubat yang benar dan tulus.

1. Ikhlas kepada Allah SWT

Bertaubat yang dilakukan semata-mata karena mengharapkan ridha Allah SWT.

2. Taubat di waktu yang tepat

Sebaiknya bertaubat dilakukan pada waktu yang memungkinkan untuk dikabulkannya taubat.

Di antaranya sebelum matahari terbit dari arah barat, bahkan sebelum nyawa sampai di kerongkongan, karena Allah akan menerima taubat seorang hamba selama dia belum ghar-ghaah (sekarat).

3. Meninggalkan dosa, dan tidak benar jika seorang hamba mengaku bertaubat tetapi ia tetap dalam kemaksiatannya.

4. Menyesali dosa yang telah lalu

5. Ber’azam (tekad) untuk tidak mengulangi dosa.

6. Jika suatu dosa berhubungan dengan hak makhluk maka wajib mengembalikan hak tersebut kepada pemiliknya, meminta kehalalan dari mereka, berupa harta atau kehormatan atau yang lainnya.


Sumber : tribunjabar.id 

You might also like