SAYYID QUTHUB Intelektual Idealis, Sastrawan, Alim, sang Martir dalam perjuangan

7

25 Apr @Kolom

Sumber Gambar : Republika.co.id

Sumber Gambar : Republika.co.id

“Jari telunjuk yang setiap hari memberi kesaksian tauhid kepada Allah saat shalat menolak menulis satu kata pengakuan untuk penguasa tiran. Jika saya dipenjara karena kebenaran, saya rela dengan hukum kebenaran. Jika saya dipenjara dengan kebatilan, pantang bagi saya minta belas kasihan kebatilan.”

Nama lengkap beliau, Sayyid Quthub Ibrahim Husain Syadzili, Lahir di daerah Muasyah, Provinsi Asyut, di daratan tinggi Mesir, pada tanggal 9 Oktober 1906 M, di sebuah desa dengan tradisi agama yang kental. Dengan tradisi seperti itulah, maka tak heran jika Quthub kecil, menjadi seorang anak yang pandai dalam ilmu agama. Dia merupakan anak tertua dari lima bersaudara, dua laki-laki dan tiga perempuan. Ayahnya bernama Al-Haj Quthub Ibrahim.

Sayyid Quthub Adalah seorang penulis, pendidik, penyair Mesir dan anggota utama Ikhwanul Muslimin Mesir pada era 1950 dan ’60an. Sebuah nama legendaris di kalangan aktivis pergerakan Islam. Namanya dipuji kaum pergerakan Islam di seluruh dunia, dari yang moderat seperti Ikhwanul Muslimin di Mesir, Partai Keadilan Sejahtera, dan kelompok-kelompok Islam lainnya di Indonesia, sampai kalangan gerakan Islam radikal, seperti Al Jihad, Hamas (Palestina) Jamaah Islamiyah (Mesir), serta Al Qaidah, dan kelompok-kelompok lokal yang berafiliasi dengannya.

Penulis 20-an buku, termasuk novel, kritik seni sastra dan buku pendidikan, dia dikenal luas di dunia Muslim lewat karya-karyanya, mengenai apa yang dia percaya sebagai peran sosial dan politik Islam, terutama bukunya Keadilan Sosial dan Ma’alim fi-l-Tariq serta Fii Zilal al-Qur’an, karyanya 30 jilid tafsirnya terhadap Al-Qur’an.

Sebagian besar lingkaran hidupnya, diisi oleh para politikus berpengaruh, kaum intelektual, penyair dan figur sastrawan, baik yang semasanya maupun generasi setelahnya. Di pertengahan tahun 1940, banyak tulisannya yang menjadi acuan resmi di sekolah, kampus dan universitas.

Meskipun sebagian besar observasi dan kritiknya mengenai dunia Islam, Quthub juga dikenal atas ketidak setujuannya terhadap masyarakat dan budaya Amerika Serikat, yang dipandangnya sangat terobsesi dengan materialisme, kekerasan, dan hasrat seksual. Terdapat beragam pendapat mengenai seorang Quthub. Dia umum dideksripsikan oleh sebagian sebagai seorang seniman luar biasa dan martir untuk Islam. Sebaliknya, oleh kalangan penguasa sekuler, media massa, dan peneliti Barat, Sayyid Quthub mendapat stempel buruk. Ia dijuluki sebagai ‘Ideolog Gerakan Radikal Islam’, ‘Bapak Islam Fundamentalis’, bahkan ‘Guru Para Teroris’. Sebutan itu dilekatkan kuat pada Sayyid karena tokoh-tokoh radikal Islam, menjadikan tulisan-tulisan Sayyid sebagai guru inspirasi gerakan mereka, yang umumnya memilih jalur perjuangan dengan mengangkat senjata.

Sebagai insan yang haus akan ilmu, tak puas dengan yang ditemuinya. ia berkelana ke berbagai negara di Eropa. Italia, Inggris dan Swiss dan berbagai negara lain dikunjunginya. Tapi itupun tak menyiram dahaganya. Studi di banyak tempat yang dilakukannya memberi satu kesimpulan pada Sayyid Quthub. Baginya, pengalaman meneliti kebobrokan sistem pendidikan dan moral di Amerika sudah memberinya kesimpulan bahwa Islam adalah satu-satunya jalan. Bagi Quthub, produk Undang-undang buatan manusia tidak akan pernah bisa sama sekali mengantarkan manusia ke jalan Allah. Sayyid Quthub menolak menafsirkan kata tauhid hanya sekedar pengakuan lisan bahwa Allah adalah Tuhan. Doktor Sastra dari Darul Ulum ini mempelajari Qur’an lebih mendalam, dan ia menyimpulkan bahwa makna tauhid lebih dari itu.

Baginya tauhid sudah satu paket dengan keharusan menjalankan hukum-hukum Allah dan menolak bergabung dalam barisan oposisi tauhid. Memaknai tauhid dalam dua jurang antara al-haqq dan al-bathil yang coba disatukan adalah barisan absurditas yang sama sekali tidak akan mampu membawa Islam jaya. Meskipun itu demi “maslahat dakwah”. Sekalipun itu memakai “baju” Islam.

Hukum dan ilmu Allah saja muaranya. Selama ia mengembara, banyak problem yang ditemuinya di beberapa negara. Secara garis besar Sayyid Quthub menarik kesimpulan, bahwa problem yang ada, ditimbulkan oleh dunia yang semakin materialistis dan jauh dari nilai-nilai agama. Alhasil, setelah lama mengembara, Sayyid Quthub kembali lagi ke asalnya. Seperti pepatah, sejauh-jauh bangau terbang, pasti akan pulang ke kandang. Ia merasa, bahwa Qur’an sudah sejak lama mampu menjawab semua pertanyaan yang ada. Ia kembali ke Mesir dan bergabung dengan kelompok pergerakan Ihkwanul Muslimin. Di sanalah Sayyid Quthub benar-benar mengaktualisasikan dirinya. Dengan kapasitas dan ilmunya, tak lama namanya meroket dalam pergerakan itu. Tapi pada tahun 1951, pemerintahan Mesir mengeluarkan larangan dan pembubaran ikhwanul muslimin.

Sayyid Quthub dan Karyanya di dalam Penjara

You might also like